Ampera Tempoe Doeloe (Part 1)
Alhamdulillah dapet ide posting, hari ini saya mau posting tentang daerah saya ya, Palembang.
Bukan sok rasis, tapi kan mencoba menelusuri dan mensyukuri kembali warisan daerah dan insyaAllah menjadikannya sebagai budaya yang patut dibanggakan, betul?
Hmm, dulu kota Palembang pas zaman Belanda terdiri atas dua bagian, yaitu hulu dan hilir. Dipisahkan oleh sungai , namanya sungai Musi.
Lalu ada ide, untuk menyatukan dua daratan itu dengan jembatan, banyak usaha dilakukan. Sayangnya, hingga Belanda meninggalkan Indonesia, proyek itu tidak pernah terwujud.
Setelah merdeka
Keinginan warga untuk bersatu semakin kuat. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang mencoba mengusulkan pembangunan jembatan itu, disebut Jembatan Musi (dari nama Sungai Musi dibawahnya) pada sidang pleno yang berlangsung pada 1956. Usulan ini sebetulnya tergolong nekat banget sebab anggaran yang ada hanya sekitar Rp 30.000,00 [ Dulu, klo hari gini, 30ribu mah gak cukup buat bangun jembatan diatas selokan, apalagi diatas sungai
].
Tahun 1957, pemerintah minta dukungan ke Presiden Soekarno supaya dibikinin jembatan diatas Sungai Musi itu. Bung Karno kemudian menyetujui usulan pembangunan itu, pemerintahpun diberi dana US $ 4.500.000 (saat itu, $ 1 = 200 perak) dari dana pampasan perang Jepang. Bukan hanya biaya, bahkan tenaganya ahlinyapun dari negara tersebut.
Karena jembatan ini rencananya dibangun di pusat kota, Bung Karno kemudian mengajukan syarat. Yaitu, penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan itu.
Udah dulu ah, besok lanjutnya …
.
Hai !!!
Tulisan diatas dibuat oleh saya, Rakhmad Apriansyah
Seorang pemuda ganteng Indonesia, hm hm hm ... Anda suka dengan artikel ini? Boleh kok disalin. Tapi, jangan lupa beri komentar dulu untuk perbaikan saya kedepannya. Atau mau lihat tulisan saya yang lain? klik disini. Anda bisa mendapatkan update artikel ini, dan juga mengetahui artikel terbaru saya yang lain dengan berlangganan, baik melalui feed ataupun email feed. Terima kasih telah berkunjung !!!.





kayaknya mas cocok jadi ahli sejarah… he he
Semoga, kalo jadi dibangun pemborong dan pejabatnya jujur,biar gak berlarut-larut, atau ditilap uangnya .aamin
salam kenal ya mas. blogger anyar,
ditunggu kelanjutannya ..
wah keren sob
Wah orang Palembang toh
saya baru tahu kalo mas gak posting ini saya gak tahu
Lebaran tahun lalu, saya ke Palembang. Sempet juga ke jembt Ampera. Masih terlihat kejayaan jembatan itu, walopun kata ayah saya dulu lebar sungainya lebaaaaaar sekali. Sekarang udah berkurang jauh, entah gimana.
wooow… anggaran awal 30 rb?? nekad tenan hehe..
semoga kapan2 ada kesempatan melintas Jembatan Ampera